Paguyuban Kawruh Jowo Lugu
Donasi dapat disalurkan melalui Bank Jatim Cabang Kepanjen a/n Paguyuban Kawruh Jowo Lugu No.rek 0603214463

BIOGRAFI
BAPAK KAYUN KARSADIHARDJA

Sebelum tahun 1900, lahirlah seseorang  dan diberi nama Kayun dari keluarga sederhana di daerah Metaraman dusun Tumpak Lawang Desa Tumpakreja Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang dari keluarga sederhana  yang membaur di tengah-tengah rakyat Jelata . Keluarga itu dikenal bernama Surakadi

Kayun diasuh dan dibesarkan dikeluarga sederhana dan hidup layaknya anak-anak dikampungnya sebagaimana anak-anak sebayanya. Setelah berkembang menjadi remaja ia mulai senang berpuasa dan berkelana dan mengurangi tidur mencari kawruh atau ngelmu kepada siapapun yang dianggap mempunyai ilmu atau kawuh. Setelah dewasa Pemuda Kayun  merasa sangat prihatin melihat keadan didesanya dan bangsa Nuswantara umumnya sangat tertindas semasa jaman belanda dan lebih-lebih pada masa pendudukan tentara Jepang.
Pak Kayun

Dengan Keprihatinannya itu beliau akhirnya meninggalkan kampung halamannya untuk mengadakan laku, yaitu menyepi dan melakukan tarak brata mengembara sampai keliling Nuswantara . Beliau lama di Bali, Lombok, Madura dan akhirnya ke Malang.

Ketika di pulau Lombok tepatnya di Gunung Rinjani, pada hari Jumat Legi   Bapak kayun menerima wahyu panatagama Sangkan paraning Dumadi bersamaan turunnya wahyu Panata Negara  diterima  oleh  Bapak Ir. Soekarno yang kemudian menjabat Presiden Republik Indonesia Pertama dan wahyu Panatabedaya (Kesenian)  yang diterima oleh seorang dalang di Tulungagung, Bapak kayun kemudian kembali ke Malang, namun bukan ketempat tinggalnya akan tetapi ke lereng Gunung Kawi, sesuai tuntunan gaibnya  dengan sambil bekerja dan setiap malamnya tiap-tiap jam 24.00 selalu melakukan sembahyang dengan cara-cara penghayatan kebatinan.

Selama melatih diri dan melakukan semedi/penghayatan beliau mendapatkan petunjuk  langsung dari kadang pribadi agar Bapak  Kayun  melanjutkan lelaku lelana tapa bratanya ke lereng Gunung Kawi (bukan tempat pesarean) di tengah hutan  untuk ketemu dengan Guru Sejati yang bersama-sama bertapa selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan ibunya.  Dari pengalaman bertapa yang dilaksanakan selama enam bulan lamanya, atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, maka Bapak Kayun  bertemu dengan Guru Sejati. Dari Guru Sejati ini Bapak Kayun menerima petunjuk/wejangan kearah tindakan dan ucapan yang berbudi luhur dalam melaksanakan pehghidupan sehari-hari dan agar selalu memberikan pertolongan kepada semua orang yang membutuhkan. Maka mulai saat itulah beliau selalu memberikan pertolongan, nasehat, yang sifatnya budi luhur dalam berperilaku hidup di dunia dalam hal bernegara, berbangsa, berdagang, bertani agar mendapatkan kedamaian, ketentraman dan kesejahteran lahir batin baik untuk dirinya sendiri, maupun dalam bermasyarakat dalam kaitanya memelihara dan menghormati alam lingkungannya

Dalam perilakunya selama di lereng Gunung Kawi  Pada suatu saat Bapak Kayun menerima Petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa lewat Sang Guru Sejati. Petunjuk tersebut memberitahukan bahwa seorang laki-laki yang bernama Surakadi (Ayah Bapak Kayun) meninggal dunia dan mayatnya sudah bermalam selama satu malam. Bapak Kayun diminta segera pulang sebab penmberangkatan jenasah hanya tinggal menunggu kedatangan Bapak Kayun. Bapak Kayun langsung pulang kerumahnya. Kurang lebih jam 15.00 sampai di rumahnya, didapati rumahnya sudah banyak orang berkerumun baik saudara, tetangga  yang melayat dan jenasah siap diberangkatkan ke kuburan. Tetapi anehnya, Bapak Kayun minta ijin kepada keluarga dan para pelayat agar jenasah bapaknya ditangguhkan sementara  dengan maksud ingin tidur sebentar dengan jenasah orang tuanya. Setelah diijinkan  Bapak Kayun segera mencuci muka/wajah, kaki dan tangan, langsung tidur dengan jenasah orang tuanya dengan posisi  orang tuanya membujur keselatan, Bapak Kayun  tidur dengan posisi mencium kaki  jenasah orang tuanya kurang lebih sepuluh menit.

Kemudian Saudara dan para pelayat terkejut dan takut menyaksikan jenasah tiba-tiba hidup kembali dengan posisi duduk dirangkul Bapak Kayun dan segera membuka kain putih yang menutup kepala orang tuanya dan selanjutnya  bapak Kayun meminta kepada saudaranya agar segera mengambilkan air kelapa muda dan mengupasnya serta mengambil airnya untuk diminumkan kepada orang tuanya yang belum sadarkan diri tersebut, sehingga hidup kembali serta bisa melanjutkan hidupnya kurang lebih 15 tahun lamanya.

Dengan peristiwa langka tersebut  banyak orang ingin mengetahui sebab-sebab jenasah orang tuanya bisa hidup kembali, pada hal jenasah tersebut sudah satu malam setengah hari dan siap untuk dimakamkan. Bapak kayun memberikan penjelasan kepada saudara-saudaranya dan orang-orang serta pelayat yang masih  ada di rumahnya, bahwa beliau adalah manusia biasa dan tidak  bisa apa-apa. Apabila manusia itu mau mendekatkan diri dan mau manembah sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala perilaku dan ucapan yang budi luhur, segala permohonan umatnya pasti diperkenankan dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, banyak  orang yang ingin mengikuti ajaran Ketuhanan dengan cara kebatinan yang telah dihayati dan dilakukan oleh Bapak Kayun tersebut. Bapak Kayun kemudian mendapatkan Petunjuk  dari Tuhan yang maha Esa melalui Guru Sejati  untuk menumbuh kembangkan ajaran budi  luhur dengan nama Kawruh  kebatinan Jawa Lugu   dan memakai nama Karsadihardja. Dengan demikian banyak yang datang menemui Bapak Karsadihardja untuk mengikuti penghayatan dan ada pula yang datang memohon doa restu agar mendapatkan tuntunan kearah kebaikan dan keselamatan serta ketentraman hidup. Seiring dengan perkembangan saat itu maka pada tanggal, 07 Pebruari 1943 Bapak Karsadihardja mendirikan Perkumpulan dengan nama Kepercayaan Kebatinan Jawa Lugu

Pada Masa Pemerintahan Presiden Soekarno beliau sering di undang ke Istana Presiden untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut ketentraman rakyat dan Negara.  Pada hari Sabtu Wage tepatnya tanggal, 14  Nopember 1964 Bapak Karsadihardja  wafat di Rumah Sakit malang. Beliau dimakamkan di Pesarean Keluarga dusun Tumpak Lawang desa  Tumpakrejo kecamatan Kalipare kabupaten Malang.

Dan atas keteladanan Bapak Karsadihardja serta  perkenan Tuhan Yang Maha Esa  sampai saat ini ajarannya dikenal dengan sebutan ajaran Budi Luhur Kawruh Jawa Lugu,  kemudian oleh para penghayatnya beliau di kenal dengan sebutan Bapak Pinisepuh Agung Kayun Karsadihardja. Kawruh Jawa Lugu saat ini telah berkembang dengan Pesat sampai ke seluruh Indonesia bahkan  sampai ke manca Negara.


Beranda | Sejarah | Ajaran | Kepengurusan | Donasi | Pendaftaran |FAQ